पूर्व महेंद's posts with tag: journals
minggu lalu nggak sengaja nonton videoklip " 4 minutes"nya madonna featuring justin timberlake & timbaland, waktu kumpul setelah latihan di ruang tunggu studio. enak juga lagunya, terbukti melodinya langsung nyangkut di kepalaku berhari-hari setelahnya. belakangan ini, musiknya mulai terasa mengganggu di kepalaku, karena mendadak liriknya berubah jadi " pintu sorga...pintu sorga...", dan pagi ini mulai ketambahan "bang toyib"nya ade irma. terlalu banyak kayaknya jumlah lagu yang terekam di kepalaku, sampai campur aduk begini. hihihi. *cari-cari lagu lain biar nggak stress*
Klak!Klik!Klak!Klik!Klak!Klik! Begitulah bunyinya. Kakinya bertanduk, hewan apa namanya..
Halah, maksa. Tapi memang suara-suara tadi yang terdengar sore itu, waktu abi, jay, weslie, mbu, mira, deden, rieri, tub, blub, starchie, ani dan aku kumpul di taman balaikota bandung. Sepanjang jalan, tiga buah kamera yang ada tak henti-hentinya merekam bakat-bakat narsis (baca: sadar kamera dan banci tampil) selama kopdar bandoeng tempo doeloe, hari jum'at yang lalu. Dari balaikota, lantas menyusuri sidewalk wastu kencana, menyeberangi zebra cross ke arah bank indonesia, melintasi rel kereta, gila-gilaan di simpang braga, (lagi-lagi) foto-foto (lagi) di sepanjang trotoar braga, kemudian belok ke arah naripan dan lembong menuju p.d. rasa, sekaligus mengakhiri kegiatan dengan.. tentu saja, makan-makan! :D Males cerita, liat gambar aja yach. Ini sebagian yang terkumpul dari halaman flickr abi dan mbu. Foto "dijepret" secara simultaneously oleh wesly, abi, jay dan mbu. Setelah "dirias" oleh abi, dan kuatur letaknya satu per satu, jadi juga poster kopdarklik! hasil iseng-iseng ini. Enjoy!
Sejak bisa motret, aku hampir nggak pernah punya koleksi foto lagi. Gimana nggak, setiap ada acara selalu kebagian jadi yang pegang tust.. eh, kamera maksudnya.. hehe.Hari Sabtu lalu, aku pergi ke Dago Tea House. Dan untuk pertama kalinya ketemu langsung dengan wesly, yang baru datang dari afrika. Baru lima menit duduk, langsung ketahuan anak itu punya hobi motret. Karena sementara yang lain lagi ngobrol, dia malah sibuk dengan nikonnya, memotret lainnya yang lagi ngobrol satu demi satu, plus komentar ke apapun yang lagi dibicarakan, hihihi.. ;)
Nah, sebelum orang yang punya hobi menghilang itu pergi ke jakarta, aku sempat mindahin data-data dari kameranya ke harddisk. Dan tiba-tiba saja aku punya banyak foto diri, hasil jepretan wesly selama nongkrong di dago minggu lalu. Jujur aja, punya sebanyak itu malah bikin bingung. Kalau dicetak, trus disimpen dalam album, rasanya nggak sreg. mau di frame satu-satu? Wah, bisa abis duit cuma buat beli framenya aja. Belum lagi harga cetaknya. Akhirnya tadi malam muncul ide untuk bikin poster dari foto-foto tadi. Supaya semuanya bisa masuk ke dalam satu frame besar. Detik berikutnya, aku langsung sibuk dengan photoshop seri tujuh, yang masih kupakai karena komputerku sampai detik ini masih nggak sanggup untuk menjalankan seri yang lebih tinggi, padahal sekarang sudah sampai creative suite 3.. *sigh* Setelah sekian lama utak-atik gambar, akhirnya beres juga foto itu kukerjakan. Seperti biasa, yang makan waktu paling banyak itu justru waktu menentukan judulnya. Rupanya kebiasaan dari dulu itu belum hilang sejak aku jadi tukang bikin desktop wallpaper dari sekian tahun yang lalu. ;) Setelah selesai, akhirnya tujuh foto tadi berhasil juga dijadikan satu seperti ini. :)Beres dengan editing, layout dan desain, bukan aku namanya kalau nggak bikin satu layout lagi, ;) Kreatif? Bisa jadi. Tapi kali ini akibatnya justru nggak bagus, karena setelah beres bikin layout yang kedua, malah bingung untuk milih mana yang lebih bagus untuk dicetak, hahaha, kebiasaan! :D Huah, beres juga akhirnya. Dan sekarang tiba-tiba jadi ngantuk. Banget. Tidur ah.
Naik itu ke Atas. Turun itu ke Bawah. Minggir itu ke Samping. Maju itu ke Depan. Mundur itu ke Belakang. Masuk itu ke Dalam.
Trus, kalo KELUAR itu KEMANA ya?
Huh. I've lost sleep over that one.
Hampir dua minggu aku sibuk dengan segala macam urusan kayu. Jum'at pagi kemarin beres semuanya. It means one thing, and one thing only. Aku bangkrut, hahaha.. Nggak lagi-lagi deh beli-beli kayu, kalo nggak kepaksa. Mahal bok! Hihihi.. Banyak maunya koq nggak mau rugi. Pagi itu aku kembali ke rumah, setelah malamnya sibuk dengan interior apartemen teman di Sudirman Park. Hm, masih banyak sisa kayu rupanya. Dan ada satu yang lumayan panjang. Cukup untuk dibikin jadi rak buku, tergantung di atas tempat tidur. Ukur-ukur, potong-potong, paku-paku, amplas-amplas, beres! Hehehe.. Nggak mau rugi banget yak? Setelah yakin dengan jaraknya dari tempat tidur, langsung pasang di kamar. Hasilnya? Miring! Hahaha.. Untung ndak terlalu parah melesetnya. Terlihat agak lumayan setelah diisi dengan buku-buku, foto dan lampu baca.  Tugas berikutnya, mensortir tumpukan majalah, deretan buku, komik, kamus dan novel yang berserakan di rumah. Setelah raknya jadi, sekarang malah bukunya yang kurang. :D Tapi nanti saat sisanya dibawa dari Jakarta, dijamin penuh! Sampahku di rumah orang tua kan tujuh puluh persennya buku. Sayang koleksi komik saduran eropaku sudah tak ada lagi. Habis tak bersisa dimakan rayap, pasca banjir dua ribu dua yang lalu. Huh. Mau beli lagi, udah mahal banget harganya sekarang. Menyaksikan komik favoritmu dibakar itu bukan hal yang menyenangkan, beneran! Hilang sudah koleksi Alix, Tintin, Lefranc, 4 As, Johan & Pirlouit, Yo, Susi & Yokko, Deni Manusia Ikan, Roel Dijkstra, Storm, Smurf, Tanguy & Laverdure, dan lain-lain yang disimpan sejak kecil. Nggak butuh waktu lama ternyata untuk menyusun buku-buku di rak yang ada. Sekarang ada tiga buah rak di rumah. Di study room, ada rak buku setinggi dua meter, di ruang belakang ada rak buku yang lebih besar lagi, dan di ruang tamu ada rak televisi, tersambung dengan rak dvd.
  Waktu online tadi sore, tiba-tiba hujan. Hmm.. lumayan, udara jadi sejuk. Baru tarik napas dua kali, tiba-tiba di rumah terasa sepi. Huh, mati listrik. Lima menit, seperempat jam, setengah jam, satu jam.. Masih mati juga. Ini bakal lama kayaknya. Dan masih belum tahu mau ngerjain apa. Bingung. Sepertinya ketergantunganku pada perangkat multimedia makin lama makin parah. Baca buku? Lagi nggak mood. Main gitar? Bosan. Melamun? Nggak berani. Mumpung langit masih terang, akhirnya pergi belakang, menyusun majalah dan buku di rak yang selesai dikerjakan kemarin. Baru juga sebentar, eh udah beres. Hm. Bingung lagi. Melamun? Masih nggak berani. Tak lama otakku mulai belok (lagi), dan akhirnya malah ngambil notes, sibuk bikin anagram dari nama sendiri. Lumayan juga, ternyata bisa ngabisin waktu lebih lama ketimbang beberes majalah dan buku.
Hmm. Orang aneh.
Eh? Ini ngomongin sapa sih? Oh, si Mahen toh. Pantesan.
"Loe gak ada kerjaan ya?" "Pertanyaan itu seringkali dilontarkan ke saya. Mungkin memang aneh untuk sebagian orang, melihat saya kadang begitu semangat menyortir barang-barang yang saya miliki. Apapun bentuknya. Berbagai julukan pun kerap disematkan ke diri saya. Ada yang bilang saya ini aneh, ekstrim, nyentrik, ajaib, unik, pokoknya macam-macam. Ini sudah terjadi sejak menginjak bangku es-em-pe. Hingga dalam kepanitiaan, lebih sering sering terpilih jadi sekretaris ketimbang posisi lainnya.
 Pertanyaan di atas terlontar lagi beberapa waktu yang lalu, saat beberapa teman datang ke rumah untuk menyalin beberapa lagu dari koleksi saya, tak lama setelah membuka iTunes. Pakai tambahan kata "Gile" pula di depannya. Padahal saya ndak kurang kerjaan koq. Mungkin lebih cocok jika dikatakan kelewat iseng, hehe.. Apa bedanya yah? Orang yang memiliki koleksi (Apapun itu) cukup banyak seperti saya, akan lebih mengerti kenapa saya melakukan itu semua. Dengan deretan playlist sepanjang itu, terbayang kan betapa sulitnya untuk menemukan lagu yang diinginkan secara cepat. Apalagi kalau komputernya setua yang saya miliki. Prosesornya aja masih berjudul viliron. Hihihi... Segala sesuatu jadi lambat prosesnya, karena sudah terengah-engah menjalankan aplikasi-aplikasi baru.
Dan sepertinya kurang menyenangkan ya kalau saya cuma cerita terus. Jadi silahkan klik gambar yang ada di sini untuk melihat playlists yang sering membuat orang lain terheran-heran hingga melontarkan pertanyaan di atas.
Forgive me father, for I have sinned. It's been two years, and yet another. Why? Hmm, not even I could answer that.
I've told you then, that: it suits me sometimes, this so called "casual" life. I don't have to get involved. I can be intimate without being tied down (Figuratively speaking). You thank the Lord a thousand times for making them a pain in somebody else's ass. And yet, you feel lonely all the same. There's no room for you in the exchange. It's about the needs, and nothing but the needs. We all just want to be received, and you and I (We're good at that, arent we?) Receiving pain upon pain. Now don't look appaled. I'm doing a service here, every bit as effective as yours. The only difference is, yours is sanctioned, while mine is scorned. But I'm not here to argue or convince you of anything. I just want somebody to talk to, someone who'll listen to my story and not wanna judge me five minutes later. The problem with me is, women are drawn to me the way people are drawn to a car crash: a beautiful old-wreck on the side of the road (because misery is both a lure and a trap): Interesting to fuck but hell to live with. I was thinking that I'm never gonna be a good husband, but I know I'm just lying to myself. Truth is, I hate being alone. I hate being dirty little secret, the tasty side dish, the little weekend masochist for the lovers. So why do I persist in doing (And being) the very thing I hate? I don't supposed you have anything to say to that (And I'm gonna make sure you don't by continuing to talk talk talk into your big ear). But at some point, I'm stuck in a situation where all the changes for the good things I made mean nothing to the society, who'd make their life more interesting talking 'bout other people's sins and failures. Sin's stubborn isn't it? It's all it takes to throw away everything you made for years. That's it's ugliest, most merciless face, is what casts us into the deepest, coldest circle of hell. -- पूर्व महेंद
Hari ini dimulai dengan membuat rak tambahan untuk cabinet di sebelah meja makan. Begitu selesai langsung di plamuur, jadi nanti tinggal dicat saja. Untung juga, waktu bongkar-bongkar rumah bulan lalu, baru ketahuan ternyata banyak lemari dan rak nganggur di rumah ini. Dengan sedikit modifikasi, bisa diubah jadi rak/lemari baru. Lumayanlah, jadi gak perlu beli-beli perabotan lagi. Tapi untuk rak dvd, televisi, dan rak buku terpaksa harus bikin baru, soalnya diantara perabotan lama yang ditinggal gak ada yang cocok ukurannya. Selesai ngeberesin cabinet tadi, pekerjaan dihentikan dulu untuk makan siang. Beres itu baru lanjut lagi. Sekarang giliran rak untuk tempat televisi dan dvd. Rangkanya sendiri sudah beres dari kemarin, jadi hari ini tinggal memasang vinyl jati dan melumuri kedua rak tadi dengan impra sebelum dikubur, eh, diplitur.  Sekitar jam 2 siang tadi, datang juga akhirnya lembaran multiplex yang dipesan kemarin. Ternyata memang gak salah pilih. Setelah dilihat-lihat, bahan kayunya memang jauh lebih bagus daripada yang dibeli sebelumnya. Mudah-mudahan kedua rak tadi bisa selesai malam ini, sehingga besok pagi sudah bisa mulai mengerjakan rak buku, dan lemari untuk perabotan pecah belah. Lama gak ngerjain yang beginian, agak mabok juga ya kebanyakan ngendus macam-macam bau dari bahan-bahan yang digunakan. Jadi inget, dulu kalo lagi masang karpet untuk studio musik pasti mabok pas beres. Gimana nggak? Wong anak kecil aja kalo nongkrong di jabotabek suka mabok aibon. Itu baru kaleng yang ukurannya paling kecil, gimana yang paling gede? HeHeHe..
-- frontyard/daylight --
  Beberapa hari lalu saya sempat meluangkan waktu untuk memotret bagian depan rumah. Belum selesai sih. Halaman rumah masih dalam kondisi berantakan, dan sampai sekarang masih bingung memilih warna untuk cat tembok bagian luar. Mungkin bukan memilih warnanya yang bikin bingung, tapi lebih bingung mikirin harganya, hahaha Memang masih agak lama, karena puing-puing bekas membongkar tembok dari bulan lalu masih menumpuk di halaman samping. Okay, jadi ngapain dipotret kalo belum beres? Yah, setidaknya ada beberapa details yang diubah sejak pindah ke rumah ini. Bulan Nopember lalu, warna pagar dan pintunya sukses diganti dengan warna hitam. Itu pun butuh waktu sekitar tiga hari, kejar-kejaran dengan cuaca yang dikit-dikit hujan. Gimana nggak, jam sebelas siang saja sudah mulai mendung, dan biasanya menjelang tengah hari sudah mulai gerimis, menghambat pekerjaan. Setelah sukses kejar-kejaran dengan hujan, giliran menambal baut-baut yang ada di atap garasi menggunakan sealant, biar gak bocor-bocor lagi. Percuma aja cuci mobil, kalo ujung-ujungnya tetap aja ketetesan air hujan. Huh, gak ada gunanya donk punya atap garasi segitu gedenya,  -- frontyard/garage -- Sebelumnya saya sempatkan juga untuk mampir ke toko listik untuk beli lampu, karena lampu yang menyala di sekeliling tembok tinggal tiga buah saja. Sisanya sudah putus semua. Itu sebabnya saat malam hari saya potret kembali bagian depan rumah dengan lampu yang sudah aktif kembali. Looks a lot better of you ask me. Nah, karena masih awam menggunakan kamera, jadi harap maklum kalau gambarnya banyak yang blurry ya, HeHeHe.. ;) Sekarang lampu sorot yang ada di garasi tak pernah dinyalakan lagi, karena cahaya lampu dari tembok yang ada di sekeliling rumah sudah cukup terang. 
-- frontyard/evening --     - click on each images to enlarge -
Let's see.. okay, hari ini kembali ke rutinitas membereskan pekerjaan rumah. Kamar tidur sudah selesai di cat, sekarang giliran nyiapin bahan dan peralatan untuk membuat rak & lemari. Setelah diitung-itung, lumayan banyak juga yach. Rak tempat televisi dan dvd player, rak dvd, rak buku, kemudian lemari untuk barang pecah belah, juga cabinet untuk di sebelah meja makan. Siang tadi, abis makan siang langsung meluncur ke Suniaraja, lengkap dengan daftar barang yang musti dibeli. Banyak bok! *cek isi dompet* Huah, untung masih cukup. Saking macem-macemnya barang yang dibeli, si mbak yang melayani sampe ngomong “Udah Pak? Apalagi? Udah aja ya Pak?” Ini gimana sih? Wong ada pelanggan mau belanja banyak koq malah bolak balik ditolak? Aneh. Padahal gak jadi beli cat tembok. Kalo jadi bakalan tambah ditolak kayaknya ya? HiHiHi. Setelah bolak balik cek dan ricek, akhirnya lengkap juga barang-barangnya. Ada impra kamper, thinner, cat suede brown, plitur, kuas 4 & 2 inci, cat putih, dempul kucing, amplas, porstex, paku, vinyl jati, lem fox, engsel piano+sekrup, magnet trapez, pisau keramik, triplex 3 mm, multiplex 12mm dan 15 mm. Tinggal nunggu triplex sama multiplexnya aja, baru bisa diantar besok soalnya. Untung kemarin sudah sempat mengerjakan rak untuk tempat televisi, dan rak untuk tempat dvd, jadi mudah-mudahan malam ini kedua rak tersebut bisa selesai terlebih dahulu. Besok kalo sisa lembaran kayunya sudah diantar, berarti tinggal menyelesaikan lemari untuk barang pecah belah, serta rak buku yang nantinya akan diletakkan di kamar kerja. So, it’s on schedule then! Thank God, *lega*

Beberapa waktu lalu saya kebetulan sedang in the mood untuk nostalgia. Akhirnya saya bongkar kembali koleksi lama dan memutuskan untuk menonton konser Perfect Live dari kelompok japanese fusion Casiopea. Saat menyaksikan video konser tersebut, ada rasa familiar saat melihat wajah pemain kibornya yang bernama Minoru Mukaiya. Saya coba mengingat-ingat dimana saya pernah melihatnya, karena rasa2nya belum lama ini saya bertemu dengan orang yang wajahnya serupa. Entah mengapa, yang pertama terlintas adalah wajah komedian senior Basuki dari grup lawak Srimulat, tapi saya masih kurang yakin. Baru tadi malam saat browsing di internet saya temukan orangnya secara tak sengaja. Ternyata wajah yang terselip di ingatan saya itu tak lain adalah Ringgo Agus Rahman, kenalan saya yang belakangan ini makin sering saya lihat aksinya di dunia perfilman indonesia. Tak salah rupanya feeling saya, karena walaupun tidak sama persis, ternyata memang ada kemiripan dalam wajah ketiga orang ini. Yang pasti, ketiganya sama-sama kocak walaupun pekerjaannya berbeda.
*Hoaehm* Hari tidur sehariaaannn... Aneh, biasanya jam 12an udah bangun lagi. Bener kata si Abi, hari ini bakalan tepar. Ini pasti gara-gara tempat tidur. Maklum deh, sudah sebelas tahun terbiasa tidur di kasur tanpa tempat tidur, sekarang tiba-tiba kasurnya jadi lebih besar plus pake rangka, hehehe.. Baru nyadar ternyata ukuran kamar tidur di rumah gak terlalu besar. Karena waktu nyari tempat tidur, rata-rata ukurannya terlalu besar untuk di kamar, alhasil tempat tidur yang terpilih malah nemunya di bagian anak-anak, HiHiHi, untung aja muat.Lucunya, dari ngirim sampe masang butuh waktu dua hari. Jadi tim di hari pertama cuma mengirimkan barang saja. Hari berikutnya baru datang tim lain yang tugasnya memasang barang yang dikirim sehari sebelumnya, hehe.. boleh juga.Waktu mau nulis blog ini agak bingung juga, mau disebut tempat tidur atau ranjang yach? Entah kenapa, tiap kali denger kata ranjang itu arti yang kebayang koq selalu konotasi yach? HiHiHi.. mungkin karena kata itu dulu sering digunakan di film-film serta cerita yang membahas adegan syurrr.. (Ini juga nih, tiap dengar kata syurr, selalu inget sama Tabloid Monitor milik Arswendo yang dibredel itu).
Finally, seiring terpasangnya alat access point di atap rumah, akhirnya lepas juga predikat fakir bandwidth yang sudah melekat lebih dari 3 tahun lamanya. Lumayanlah, setidaknya ada biaya yang berkurang dengan tidak perlunya saya begadang berjam-jam di warnet untuk on-line, dengan segala aktivitas dunia maya saya. Mulai hari ini, semua kegiatan itu dapat saya lakukan kapan saja, seperti mengecek e-mail, upload & download bermacam-macam data, juga kegemaran untuk menulis di blog.

Ada kenyamanan tersendiri juga yang terasa saat terhubung ke dunia maya dari station milik sendiri, dan baru disadari kalau hal itu terakhir dialami sekitar tahun 2002/2003 lalu. Sudah cukup lama juga rupanya. Kadang sampai terheran-heran sendiri saat menyadari bahwa selama 2-3 tahun terakhir ini saya ternyata punya niat yang cukup extraordinary juga untuk online. Dengan bermodalkan flashdisk 1 Gb, iPod Video 30Gb, dan survey kecepatan akses berbagai macam warnet, semua aktivitas internet di atas tadi mampu juga saya kerjakan, meskipun waktunya terbatas, dan pe-er nya pun menumpuk, :D
Setelah sekian lama, pc jadul yang setia menemani bertahun-tahun lamanya ini akhirnya terpakai kembali aplikasi online-nya secara "maksimal".
*ah, senangnyaaa..*
| |